2026-04-07 13:22:01 | category : BIS | company id : EKOM
09648079 IQPlus (7/4) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menekankan prinsip kehati-hatian dalam menyikapi dinamika harga komoditas energi dunia yang berdampak pada bahan baku industri, hingga produksi dan distribusi ke masyarakat. "Pelaku usaha menyikapi penuh kehati-hatian dengan memperhatikan kondisi daya beli masyarakat," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang saat dihubungi di Jakarta, Selasa. Sarman mengatakan, lonjakan harga komoditas energi seperti bahan bakar minyak (BBM) dan gas memiliki pengaruh terhadap biaya produksi dan distribusi. Hal ini, lanjut dia, dikarenakan banyak industri yang masih tergantung bahan baku impor, sehingga kenaikan harga BBM memengaruhi harga logistik dan transportasi. Selain itu, Sarman menilai pelemahan nilai rupiah juga akan berdampak pada harga bahan baku impor, sehingga peningkatan biaya produksi pun menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. "Pelaku usaha otomatis akan akan menyesuaikan harga produksi akibat kenaikan harga logistik/transportasi dan harga bahan baku dengan kenaikan biaya produksi akan mengerek kenaikan harga di tingkat konsumen," kata Sarman. "Dengan memperhatikan kondisi daya beli masyarakat dunia saat ini, pelaku usaha masih mencoba mempertahankan harga lama dengan melakukan efisiensi dan margin. Namun, jika berkepanjangan, tentu pelaku usaha tidak akan kuat dan suatu saat akan menaikkan harga produk di tingkat konsumen," imbuhnya. Oleh karena itu, Kadin memandang mitigasi yang penting dilakukan antara lain dengan melakukan inovasi, menekan biaya produksi agar kenaikan di tingkat konsumen tidak naik, dan mempertimbangkan pengurangan volume/ukuran produk demi mempertahankan harga, sehingga tidak memengaruhi daya beli masyarakat. "Namun, daya tahan pelaku usaha ada batasnya, jika berkepanjangan tidak ada pilihan untuk menyesuaikan harga," ujar Sarman. Selain itu, ia menilai penting bagi pemerintah untuk memastikan ketersediaan BBM dan gas dalam negeri dengan baik, sehingga memastikan tidak ada kenaikan harga, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dan menjaga daya beli masyarakat dengan berbagai program strategis. "Pemerintah harus mampu menjaga psikologi pasar dan masyarakat menyikapi dampak geopolitik yang penuh ketidakpastian, sehingga perekonomian kita diberbagai sektor tetap produktif," kata Sarman. (end)