2026-04-09 07:23:26 | category : BIS | company id : EKOM
09826593 IQPlus (9/4) - Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi menyatakan perseroan memiliki potensi ekspor sebesar 1,5-2 juta ton untuk membantu menjaga kestabilan pasokan global di tengah disrupsi distribusi akibat konflik di Timur Tengah. Meskipun demikian, ia memastikan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri tetap menjadi prioritas perusahaan untuk mendukung ketahanan pangan nasional. "Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, terdapat potensi ekspor sekitar 1,5 hingga 2 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung stabilitas pasar global," ujar Rahmad Pribadi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu. Ia menuturkan, ketahanan pasokan tersebut didukung oleh kapasitas produksi perseroan yang mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk urea sebesar 9,4 juta ton. Selain itu, perubahan skema subsidi dari cost plus menjadi market-based mechanism, atau mark-to-market (MtM), serta dukungan pembayaran sebagian subsidi di muka, memungkinkan perusahaan untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku sekaligus mempercepat program revitalisasi industri. "Dalam lima tahun ke depan, Pupuk Indonesia menargetkan pembangunan dan revitalisasi tujuh pabrik sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan efisiensi produksi," kata Rahmad. Dalam dua tahun terakhir, Pupuk Indonesia berhasil menyalurkan pupuk bersubsidi dengan tepat waktu mulai 1 Januari setiap tahunnya. Capaian tersebut disertai penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20 persen pada 2025. Hal tersebut turut mendorong peningkatan penyerapan pupuk subsidi sebesar 31 persen pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Komisaris Utama Pupuk Indonesia Sudaryono menyatakan, transformasi dan revitalisasi yang dijalankan perusahaan telah memperkuat fondasi industri pupuk nasional. Ia menilai, penguatan kinerja tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi nasional, tetapi juga membuka ruang bagi Indonesia untuk berperan dalam menjaga keseimbangan pasokan pupuk di tingkat global. "Porsi pupuk dalam negeri pasti akan dipenuhi terlebih dahulu. Namun, dengan terganggunya pasokan global, banyak negara kini membutuhkan urea dari Indonesia. Kita adalah salah satu produsen urea terbesar di dunia, dan ini menjadi peluang sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan pasokan," ucap Sudaryono. (end/ant)