Pada perdagangan Selasa, 14 Juli 2026, IHSG ditutup pada level 6.039,52 menguat +0,03%. Nilai transaksi IHSG tercatat sebesar Rp16,83 triliun, sementara investor asing membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp885 miliar di Pasar Reguler. Pergerakan IHSG yang cenderung terbatas dipengaruhi oleh kombinasi sentimen positif domestik dan tekanan eksternal yang masih membayangi pasar. Sentimen utama datang dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil, sehingga memperkuat kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional. Di sisi lain, kenaikan signifikan IHSG pada perdagangan sebelumnya mendorong sebagian pelaku pasar melakukan profit taking, sementara investor domestik memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan bargain hunting pada saham-saham yang telah mengalami koreksi, sehingga mampu menjaga IHSG tetap berada di zona hijau meskipun tekanan jual asing masih berlanjut. Secara global, pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi (CPI) Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed. Pelemahan bursa saham Wall Street pada perdagangan sebelumnya serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga membatasi minat investor terhadap aset berisiko dan mendorong arus dana menuju aset yang lebih aman. Memasuki perdagangan Rabu, 15 Juli 2026, IHSG diperkirakan masih berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan menguat secara terbatas, ditopang sentimen positif dari stabilnya peringkat kredit Indonesia, namun tetap dibayangi aksi jual asing, potensi profit taking lanjutan, serta respons pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat. Pada perdagangan Rabu 15 Juli 2026, IHSG diprediksi bergerak pada rentang 5.840 – 6.220. Saham – saham yang dapat diperhatikan seperti HRTA, TLKM, dan INET.