Pada perdagangan Jumat 26 Juni 2026, IHSG ditutup pada level 5.896,13 melemah -1,72%. Transaksi IHSG sebesar Rp12,73 Triliun serta investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp302 Miliar di Pasar Reguler. Pasar saham domestik melemah signifikan akibat aksi likuidasi portofolio dan amankan kas oleh para manajer investasi menjelang penutupan buku semester I-2026 (end-of-first half liquidation). Penguatan tajam pada hari sebelumnya dimanfaatkan pelaku pasar untuk melakukan aksi de-risking (pengurangan risiko) karena kelelahan teknis (technical exhaustion), minimnya stimulus baru domestik, serta sikap wait and see akut menantikan rilis data inflasi dan PMI manufaktur awal Juli mendatang. Secara global, pelemahan IHSG dipengaruhi oleh lonjakan kembali indeks dolar AS (DXY) yang secara otomatis memicu kenaikan imbal hasil obligasi US Treasury 10-Tahun. Sentimen risk-off eksternal ini diperparah oleh koreksi serempak bursa saham regional Asia (seperti Nikkei dan Hang Seng), penurunan harga komoditas energi akibat penguatan USD, serta berkurangnya likuiditas global karena faktor musiman libur musim panas. Sementara dari dalam negeri, indeks kian terbebani oleh kembalinya tekanan pada nilai tukar Rupiah yang melemah mendekati level Rp18.000/US$ akibat tingginya permintaan korporasi untuk repatriasi dividen dan utang luar negeri di akhir bulan. Memasuki awal pekan, perhatian utama pasar akan tertuju pada kemampuan stabilitas kurs Rupiah pasca-puncak siklus semesteran di bawah pengawalan Bank Indonesia. Pada perdagangan Senin 29 Juni 2026, IHSG diprediksi bergerak pada rentang 5.900 – 6.100. Saham – saham yang dapat diperhatikan seperti SIDO, PRDA, dan TBIG.