Pada perdagangan Jumat 27 Maret 2026, IHSG ditutup pada level 7.164,09 melemah -1,89%. Transaksi IHSG sebesar Rp32,35 T serta investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp1,93 Triliun di Pasar Reguler. Pasar saham bergerak cenderung melemah dan volatil, dengan tekanan pada mayoritas sektor perbankan, teknologi, dan consumer seiring meningkatnya kekhawatiran global, sementara sektor energi relatif lebih defensif. Pelemahan ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang dalam beberapa hari terakhir kembali memanas ditandai dengan potensi operasi militer lanjutan, serangan terhadap infrastruktur energi, serta gangguan serius di Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Sepanjang akhir minggu kemarin, sentimen global semakin negatif karena lonjakan harga minyak mencapai lebih dari $100/barrel kembali akibat potensi kuat perang darat di Iran oleh Amerika Serikat yang memberikan peluang lebih besar memicu inflasi dan risiko resesi global. Sementara bagi Indonesia, kondisi ini meningkatkan risiko pelemahan rupiah, tekanan terhadap APBN akibat subsidi energi yang diluar skenario Pemerintah, serta potensi penurunan daya beli domestik, sehingga secara keseluruhan menciptakan bias risk-off dan berpotensi menahan pergerakan IHSG pada pembukaan 30 Maret 2026. Pasar akan bergerak lebih volatil dalam 1 minggu ini. Pada perdagangan Senin 30 Maret 2026, IHSG diprediksi bergerak pada rentang 6.744 – 7.062. Saham – saham yang dapat diperhatikan seperti INDY, PGAS, dan JARR.