Daily Research 8 Juni 2026

Pada perdagangan Jumat 5 Juni 2026, IHSG ditutup pada level 5.594,76 melemah -4,20%. Transaksi IHSG sebesar Rp31,73 Triliun serta investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp3,72 Triliun di Pasar Reguler. Pasar saham domestik mengalami hantaman keras (black friday) yang membawa indeks ke level terendahnya dalam beberapa waktu terakhir. Kejatuhan ekstrem ini dipicu oleh kepanikan massal lanjutan akibat berbagai tekanan seperti nilai tukar rupiah yang menembus level terburuk mencapai Rp18.000/US$, antisipasi rebalancing indeks global (FTSE Russell dan lanjutan MSCI), spekulasi pelaku pasar mengenai turunnya posisi indonesia dari emerging market, kekhawatiran hilangnya independensi lembaga keuangan akibat pengesahan UU P2SK, hingga rilis data realisasi APBN di Mei 2026 yang dikhawatirkan jauh melewati batas target tahunan. Secara global, sentimen negatif didorong oleh kekhawatiran geopolitik yang terus membayangi jalur pasokan energi global serta rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (Non-Farm Payrolls) yang dapat memicu ekspektasi kebijakan moneter ketat yang lebih lama (higher for longer) oleh The Fed, sehingga memicu reli indeks DXY. Pada perdagangan Senin 8 Juni 2026, IHSG diprediksi bergerak pada rentang 5.450 – 5.750. Saham – saham yang dapat diperhatikan seperti SCMA, BBTN, dan GPRA.


Lastest Post