Daily Research 9 Juli 2026

Pada perdagangan Rabu 8 Juli 2026, IHSG ditutup pada level 5.873,37 melemah -1,89%. Transaksi IHSG sebesar Rp10,55 Triliun serta investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp674 Miliar di Pasar Reguler. Pasar saham domestik dihantam kejutan negatif ganda dari faktor eksternal dan rilis sentimen regional. Ambruknya indeks dipicu oleh kepanikan psikologis investor setelah lembaga pemeringkat S&P merilis ulasan mengenai potensi Indonesia bergeser ke karakteristik Frontier Market. Sentimen ini menekan likuiditas pasar sekunder, yang di saat bersamaan juga mulai terbagi karena fokus dana segar investor tersedot ke beberapa saham IPO di awal kuartal ketiga ini. Secara global, pemicu utama beralihnya pasar ke mode defensif ekstrem (risk-off) adalah meletusnya kembali konflik militer terbuka antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Eskalasi akut ini langsung memicu lonjakan hebat pada Indeks Dolar AS (DXY) sebagai aset safe haven, yang seketika mematahkan tren penguatan mata uang regional dan memaksa kurs Rupiah melemah tajam kembali ke kisaran Rp18.100/US$. Menjelang perdagangan hari Kamis, arah pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada agresivitas langkah intervensi darurat Bank Indonesia dalam menstabilkan volatilitas Rupiah, serta pergerakan harga minyak mentah dunia akibat perang yang berpotensi memicu anomali penguatan jangka pendek pada saham-saham sektor energi sebagai penahan kejatuhan indeks. Pada perdagangan Kamis 9 Juli 2026, IHSG diprediksi bergerak pada rentang 5.740 – 6.050. Saham – saham yang dapat diperhatikan seperti TLKM, AALI, dan BLOG.


Lastest Post