Pada perdagangan Kamis 9 Juli 2026, IHSG ditutup pada level 5.912,44 menguat +0,67%. Transaksi IHSG sebesar Rp12,09 Triliun serta investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp352 Miliar di Pasar Reguler. Pasar saham domestik berhasil bangkit berkat adanya anomali penguatan di sektor komoditas energi (commodity windfall). Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat pecahnya perang Amerika Serikat - Iran justru berbalik menjadi berkah sepihak yang melambungkan saham-saham energi dan batubara, sekaligus menjadi motor penggerak utama (index movers) penahan kejatuhan bursa. Selain itu, kepanikan pasar terkait isu evaluasi S&P DJI mengenai potensi Indonesia masuk dalam status pemantauan Frontier Market mulai melandai. Secara global, fokus pasar masih tersedot pada ketegangan geopolitik akut di Timur Tengah yang memicu perpindahan modal ke aset aman. Di saat bersamaan, arus modal asing secara selektif mulai mengalir masuk (net buy) ke saham-saham komoditas strategis dan hilirisasi nikel, menciptakan perputaran sektor (sectoral rotation) yang menjaga indeks tetap di zona hijau. Menjelang penutupan pekan pada hari Jumat, laju bursa akan sangat bergantung pada konsistensi harga komoditas dunia serta sikap antisipatif investor yang cenderung defensif di sesi kedua guna meminimalkan risiko kejutan berita akhir pekan (weekend risk) terkait perkembangan perang. Pada perdagangan Jumat 10 Juli 2026, IHSG diprediksi bergerak pada rentang 5.740 – 6.050. Saham – saham yang dapat diperhatikan seperti RAJA, INCO, dan VKTR.