Pada perdagangan Senin 11 Mei 2026, IHSG ditutup pada level 6.905,62 melemah -0,92%. Transaksi IHSG sebesar Rp20,53 Triliun serta investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp659 Miliar di Pasar Reguler. Pasar saham bergerak melemah dipicu oleh sikap wait and see pelaku pasar menjelang pengumuman peninjauan indeks MSCI pada 12 Mei mendatang, yang menimbulkan kekhawatiran akan pengurangan bobot saham-saham big caps Indonesia. Pelemahan ini diperparah oleh tekanan pada nilai tukar Rupiah yang semakin terdepresiasi hingga menembus level Rp17.414/US$, mencatatkan level terlemah baru yang menekan emiten dengan eksposur utang valas tinggi. IHSG diprediksi masih akan bergerak fluktuatif cenderung melemah terbatas. Secara global, fokus utama tertuju pada peningkatan tensi geopolitik setelah kegagalan negosiasi blokade Selat Hormuz antara AS dan Iran, yang memicu lonjakan harga minyak Brent dan kekhawatiran stagflasi global. Sementara dari dalam negeri, investor mencermati efektivitas kebijakan stabilisasi Bank Indonesia serta antisipasi kepastian perubahan kenaikan royalti minerba. Pada perdagangan Selasa 12 Mei 2026, IHSG diprediksi bergerak pada rentang 6.850 – 7.000. Saham – saham yang dapat diperhatikan seperti SMRA, RMKE, dan KRYA.