Pada perdagangan Selasa 19 Mei 2026, IHSG ditutup pada level 6.370,68 melemah -3,46%. Transaksi IHSG sebesar Rp25,81 Triliun serta investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp306 Miliar di Pasar Reguler. Pasar saham bergerak melemah ekstrem hingga menyentuh rekor terendah dalam setahun terakhir, dipicu oleh kepanikan pasar akibat rumor pemerintah berencana mengatur seluruh ekspor komoditas (seperti batu bara, CPO, dan mineral logam) melalui satu badan khusus bentukan negara. Regulasi ini menimbulkan kekhawatiran investor akan potensi pengendalian harga jual yang dapat memangkas marjin laba emiten. Tekanan hebat ini diperparah oleh nilai tukar Rupiah yang sempat terpuruk menyentuh level psikologis baru di Rp17.725 per dolar AS, memicu aksi panic selling massal pada saham-saham big caps terlepas dari 7 langkah intervensi valas yang telah dilakukan Bank Indonesia. Secara global, pelemahan tajam IHSG menjadikannya sebagai penurunan terdalam di kawasan Asia, di tengah kecenderungan bursa regional lain yang bergerak bervariasi cenderung menguat. Investor global bersikap sangat defensif di pasar negara berkembang akibat penguatan indeks dolar AS yang terus menekan mata uang regional serta ketidakpastian geopolitik yang belum mereda. Sementara dari dalam negeri, fokus pelaku pasar tertuju pada kehadiran Presiden Prabowo di Rapat Paripurna DPR hari ini untuk menyampaikan langsung dokumen KEM-PPKF RAPBN 2027, serta pengumuman hasil RDG Bank Indonesia di mana konsensus memproyeksikan kenaikan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,00% guna menyelamatkan stabilitas nilai tukar Rupiah. Pada perdagangan Rabu 20 Mei 2026, IHSG diprediksi bergerak pada rentang 6.300 – 6.630. Saham – saham yang dapat diperhatikan seperti MAIN, BRMS, dan SIDO.