Pada perdagangan Kamis 2 Juli 2026, IHSG ditutup pada level 5.744,56 menguat +0,87%. Transaksi IHSG sebesar Rp11,15 Triliun serta investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp322 Miliar di Pasar Reguler. Penguatan beruntun bursa saham domestik mempertegas fase akumulasi awal semester baru setelah indeks sempat terpuruk ke area jenuh jual ekstrem. Pelaku pasar antisipatif terhadap rilis laporan keuangan kuartal II-2026 yang diproyeksikan membaik pada emiten berbasis ekspor dolar. Secara global, laju hijau IHSG mendapat angin segar dari melandainya imbal hasil obligasi US Treasury tenor 10-tahun di pasar eksternal yang sukses melebarkan kembali jarak keuntungan (yield spread) dengan SBN Indonesia, sehingga meminimalisasi risiko pelarian modal lanjutan. Melonggarnya tekanan dolar global ini juga memicu aksi rebound lanjutan bursa saham regional Asia (seperti Nikkei dan Hang Seng), yang sekaligus memberikan optimisme bagi global fund manager untuk mengurangi sikap defensif mereka di pasar berkembang. Menjelang perdagangan hari Jumat, pergerakan indeks diperkirakan akan berjalan moderat akibat potensi aksi ambil untung jangka pendek akhir pekan (weekend profit taking) serta sikap defensif investor yang membatasi transaksi besar menjelang rilis data ketenagakerjaan (Non-Farm Payrolls) AS pada Jumat malam. Pada perdagangan Jumat 3 Juli 2026, IHSG diprediksi bergerak pada rentang 5.600 – 5.870. Saham – saham yang dapat diperhatikan seperti ISAT, BRMS, dan INDY.