Pada perdagangan Senin 27 April 2026, IHSG ditutup pada level 7.106,52 melemah -0,32%. Transaksi IHSG sebesar Rp16,57 Triliun serta investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp2,01 Triliun di Pasar Reguler. Pasar saham ditutup melemah dipengaruhi oleh aksi jual pada saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA dan BMRI, yang menahan euforia lonjakan saham emiten tambang seperti AMMN dan BUMI di tengah penguatan mayoritas bursa Asia. IHSG diprediksi akan bergerak fluktuatif cenderung melemah terbatas guna menguji level support psikologis di kisaran 7.050 - 7.100 seiring dengan sikap waspada investor menjelang rilis data inflasi domestik. Di level global, pasar akan sangat mencermati dampak divergensi pasar Asia di mana sentimen AI boom menyokong bursa Asia Utara, sementara pasar ASEAN termasuk Indonesia masih tertekan oleh risiko guncangan harga energi akibat ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda. Sementara itu, dari sisi domestik, fokus pelaku pasar tertuju pada optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang diyakini menembus 5,5%, di tengah tantangan lonjakan harga BBM nonsubsidi seperti Dexlite yang telah menembus Rp23.600 per liter. Pada perdagangan Selasa 28 April 2026, IHSG diprediksi bergerak pada rentang 7.000 – 7.200. Saham – saham yang dapat diperhatikan seperti MBMA, DKFT, dan PBSA.